HIJRAH
INTELEKTUAL /
PERUBAHAN ITU DIMULAI DARI
SINI
Kehidupan ini terus berubah. Yang tidak berubah
hanyalah perubahan itu sendiri. Lihatlah sejarah umat manusia di muka
Bumi sejak manusia pertama hingga sekarang bahkan sampai terakhir nanti,
terjadi siklus kejayaan dan kehancuran dari berbagai peradaban. Allah SWT
berfirman:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
Dan masa (kejayaan
dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (QS.3:140). Ayat
tersebut mengindikasikan terjadinya siklus senang-susah, jatuh-bangun,
kalah-menang, maju-mundurnya suatu peradaban (Ali al Sobuni, 1: 231). Sebab,
setiap umat memiliki ajal (QS. 3:74), yang kemudian digantikan oleh kaum
yang lain (QS. 21:11).
Dalam teori gerak sejarah,
Ibnu Khaldun (ahli sejarah dan juga Bapak sosiologi) menjelaskan adanya Teori
siklus sejarah dalam menggambarkan arah gerak sejarah suatu peradaban. Teori
ini memiliki prinsip l’historie se repete (sejarah itu
berulang). Disebut pula teori biologis, karena mirip dengan fase-fase
kehidupan yang dilalui makhluk hidup, misalnya manusia lahir sebagai bayi,
tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa, tua, dan akhirnya meninggal, kembali
kepada sang pengendali perubahan itu sendiri, Allah, tuhan yang menciptakan
kita. Demikian pula pada tumbuhan dengan pertumbuhan, fase perkembangan,
penuaan dan akhirnya mati (al Mukaddimah: 175)
Namun demikian, kita
sebagai umat Nabi Muhammad SAW yang telah mempertontonkan kepada dunia tentang
keberhasilan beliau dalam merubah gerak sejarah yang awalnya kelam dan penuh
dengan prilaku jahiliah menjadi episode yang penuh dengan cahaya dan menjadi titik
balik pembangunan peradaban maha luhur bahkan Fathullah Gulen menilai bahwa tak
satupun kasus hijrah yang pernah dilakukan umat manusia di muka bumi ini berakhir
dengan hasil gemilang seperti hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW (Al Nur al
Khalid : 2, 142).
Keberhasilan hijrah yang
dicontohkan Nabi dan para sahabat selayaknya menjadi sebuah pelajaran bagi umat
Islam yang hidup di zaman yang “membingungkan” ini. Jika dipahami fenomena
hijrah Nabi dan para sahabat, kita akan menemukan sebuah informasi bahwa
keberadaan Nabi di kota Makkah ternyata lebih lama dibandingkan di kota
Madinah. Di Makkah, selama 13 Tahun, Nabi sangat intens dalam membenahi pola
pikir kaum muslimin (baca: keimanan). hal tersebut penting, karena ia akan
menjadi pondasi gemilangnya peradaban Islam di kemudian hari. Membenahi pola
pikir adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bagi setiap muslim yang
menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik.
Dalam catatan sejarah,
Nabi mengahabiskan 13 Tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Fase Makkah
ternyata lebih lama dibandingkan fase Madinah. Hal tersebut menunjukkan bahwa hijrah
intelektual (baca: pola pikir) adalah pondasi yang sangat menentukan bagi fenomena
hijrah jasmaniah. Betapa dahsyat pengaruh hijrah intelektual tersebut bagi
perjalanan umat Islam selanjutnya sehingga dalam waktu 23 tahun Nabi Muhammad
SAW. Beserta kaum muslim dapat menyinari jazirah Arabia dengan ajaran agama. Sebuah
catatan waktu yang sangat singkat untuk ukuran kesuksesan yang maha gemilang.
Membangun pola pikir
Pola pikir masyarakat Arab
saat itu penuh dengan kemusyrikan. Meskipun mereka mengakui adanya Tuhan
namun dalam realitas ibadah, mereka menfisualisasikan Allah sesuai kehendak
mereka. Ada yang membuat tuhan dari kayu, batu dan bahkan makanan sehingga
ketika lapar menghampiri, mereka tidak sungkan untuk menyantap tuhan mereka.
Dalam praktik ibadah, ketika
mereka ditanya mengapa menyembah berhala, mereka mengatakan bahwa berhala itu
hanyalah perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah (QS 39:3 ). Amr bin
Lubayyi, penguasa Ka’bah dan Makkah saat itu, menaruh sebuah berhala dari batu
akik yang sangat terkenal dengan nama “Hubal”.
Kondisi akidah yang kacau tersebut
kemudian berdampak negatif pada perilaku di berbagai bidang, misalnya sosial
dan ekonomi. Kehidupan sosial Makkah saat itu dicirikan dengan kebobrokan moral
yang luar biasa. Rata-rata mereka adalah peminum arak atau tuak. Mereka
biasanya melakukannya dalam sebuah pertemuan yang disertai dengan perjudian,
disertai dan dihibur oleh para penyanyi perempuan. Demikian pula dengan
kekejaman dan kebiadaban bangsa Arab saat itu yang melampau batas
kemanusiaan. Anak-anak perempuan di kubur hidup-hidup dalam tanah;
adakalanya ditaruh disuatu tempat seperti tong, lalu diluncurkan dari tempat
yang tinggi.
Dalam bidang ekonomi, bangsa
Arab sebelum Rasulullah saw. kebanyakan adalah pedagang. Perdagangan yang mereka
lakukan hanya berorientasi uang atau materi. Mereka tidak terlalu peduli dengan
cara yang dilakukan, apakah dengan cara merugikan orang lain atau tidak. Cara
bukan suatu yang penting tapi uanglah yang penting. Setelah mendapatkan
uang, mereka kemudian menghabiskannya di meja judi dan berbagai pertaruhan
lainnya (al Rahiq al Makhtum : 39-50).
Jika kita perhatikan pola
pikir orang-orang Arab tersebut yang mengakui adanya tuhan tapi tidak mau
diatur oleh Tuhan bahkan dia yang mengatur bentuk tuhan, jumlah tuhan dan cara
menyembahnya, maka kita dapat menarik benang merah dengan pola pikir Iblis.
Orang-orang arab itu secara fisik adalah manusia, anak turunnya Nabi Adam,
Namun pola pikir dan tindakannya adalah pola pikir iblis yang telah ditetapkan
oleh Allah sebagai musuh Adam dan anak turunnya (QS 2 : 36).
Dalam kitab suci al-Qur’an dinyatakan bahwa
Iblis termasuk bangsa jin (QS al Kahf (18):50), yang diciptakan dari api (QS al
Isra’ (15):27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak
perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Apakah Iblis atheist? Tidak.
Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak
meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu
dan percaya seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut ‘kafir’? Di
sinilah letak persoalannya.
Kenal dan tahu saja, tidak
cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan
Ahli Kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah
SAW, sebagaimana orangtua mengenali anak kandungnya sendiri (QS 2: 146), Namun
tetap saja mereka enggan masuk Islam.
Jelaslah bahwa
pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan
ketundukan, harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut
dan melaksanakan perintah. “Knowledge and recognition should be
followed by acknowledgement and submission, ”
Kesalahan Iblis bukan
karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang (aba,
QS 2:34, 15:31, 20:116), menganggap dirinya hebat (istakbara, QS 2:34,
38:73, 38:75), dan melawan perintah Tuhan (fasaqa an amri rabbihi, QS
18:50). Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil
direkrut sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang
dicontohkannya.
Iblis adalah ‘prototype’
intelektual ‘keblinger’. Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an, sejurus
setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan
dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke
jalannya, dengan segala cara.
“Hasutlah siapa saja yang
kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu,
kavalri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka.
Janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]!” Demikian difirmankan kepada
Iblis (QS 17:64).
Maka Iblis pun
bertekad: “Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan
kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri
mereka!” (QS 7:16-17). Maksudnya, menurut Ibnu ‘Abbas ra, Iblis bertekad
untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa
pada akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan
tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal
agama (Tafsir al-Qur’an al-Azdim, vol.
2, hlm. 190).
Tidak sulit untuk
mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup
diterangkan dalam al-Qur’an sebagai berikut. Pertama, selalu membangkang dan
membantah (QS 6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan
pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut
hulu-balangnya, zulman wa ‘uluwwan, meskipun dan padahal hati
kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).
Maka selalu dicarinya
argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya.
Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi,
bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau
mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada
cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu.
Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia
pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya.
Kedua, intelektual yang
menjadi staf iblis bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak,
arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): “Sombong ialah menolak yang haq
dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)”.
Akibatnya, orang yang
mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an atau hadis Nabi SAW
dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan
lain sebagainya.
Sebaliknya, orang yang
berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-Qur’an
maupun Hadis, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai
intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik
dan bermental Iblis.
Mereka menganggap orang
beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’).
Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur’an : “Akan Aku
palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga,
meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya.
Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun
jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya” (QS: 7:146).
ketiga ialah mengaburkan
dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan yang
bermental iblis bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia
sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian
rupa sehingga nampak seolah-olah haq.
Sebaliknya, yang haq
digunting dan di’preteli’ sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun
dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan
yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain
bingung dan terkecoh..
Contohnya mayoritas orientalis
Barat dan para pengikutnya dalam kajian mereka terhadap al-Qur’an dan Hadis.
Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik
yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif)
sumber-sumber yang ada. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan
mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam
al-Qur’an 3:71, “Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa
taktumu l-haqq wa antum ta’lamun?” Yang sangat mengherankan ialah ketika
hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim. Kalau kita tengok di
berbagai kampus yang notabene Islam, kita akan menemukan fakta yang mengerikan.
Misalnya, dosen yang menginjak-injak lafadz Allah, kita juga akan menemukan
dosen yang berwacana perlunya merevisi al qur’an, kita juga akan menemukan
mahasiswa IAIN Walisongo yang mengatakan “area bebas tuhan” dan lain-lain.
Dari uraian tersebut,
dapat dipahami bahwa hijrah intelektual merupakan pondasi yang asas dari hijrah
jasmaniah atau hijrah yang bersifat tindakan. Sebagai muslim, pertama dan utama
yang harus dilakuakan adalah mengikhlaskan diri bertuhankan Allah ber-Nabikan
Muhammad SAW, dan menjadikan Islam sebagai way of life. jika itu yang
tertanam dalam benak kita, maka dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita
akan selalu mengorientasikan segalanya untuk Allah SWT. Orientasi seperti
itulah yang disebut dengan pengabdian yang tulus(baca : Ibadah) dan pengabdian
seperti itulah yang diperintahkan oleh Allah (QS 98: 5)
Ibarat bangunan, tindakan
adalah bentuk bangunannya sedangkan intelektual atau pola pikir adalah
pondasinya. Betapapun indah bangunan sebuah rumah, namun jika tidak ditopang
dengan pondasi yang kokoh maka ia akan rapuh. Ia akan mudah roboh oleh angin
sepoi-sepoi.
والله أعلم بالصواب
Refrensi :
Al Qur’an
dan kitab-kitab Hadis
Sofi al
Rahman Al Mubarakfury, Al rahiq al makhtum (Dar al Fikr, 1999)
Muhammad
Ali al Sobuni, Sofwah al Tafasir (Dar al kutub al Islamiyah, Jakarta, 1999)
Muhammad
Fathullah Gulen , Cahaya Abadi Muhammad (Republika, Jakarta 2012)
Syamsuddin
Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Gema Insani, Jakarta 2008)
Ibn
kasir, Tafsir al Qur’an al Azdim (Dar al Kutub, Beirut 1995)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar