Senin, 14 Desember 2015

hijrah intelektual



HIJRAH INTELEKTUAL  /

PERUBAHAN ITU DIMULAI DARI SINI



Kehidupan  ini terus berubah. Yang tidak berubah hanyalah perubahan itu sendiri. Lihatlah sejarah umat manusia di muka Bumi sejak manusia pertama hingga sekarang bahkan sampai terakhir nanti, terjadi siklus kejayaan dan kehancuran dari berbagai peradaban. Allah SWT berfirman:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (QS.3:140). Ayat tersebut mengindikasikan terjadinya siklus senang-susah, jatuh-bangun, kalah-menang, maju-mundurnya suatu peradaban (Ali al Sobuni, 1: 231). Sebab, setiap umat memiliki ajal (QS. 3:74), yang kemudian digantikan oleh kaum yang lain (QS. 21:11).
Dalam teori gerak sejarah, Ibnu Khaldun (ahli sejarah dan juga Bapak sosiologi) menjelaskan adanya Teori siklus sejarah dalam menggambarkan arah gerak sejarah suatu peradaban. Teori ini memiliki prinsip l’historie se repete (sejarah itu berulang). Disebut pula teori biologis, karena mirip dengan fase-fase kehidupan yang dilalui makhluk hidup, misalnya manusia lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa, tua, dan akhirnya meninggal, kembali kepada sang pengendali perubahan itu sendiri, Allah, tuhan yang menciptakan kita. Demikian pula pada tumbuhan dengan pertumbuhan, fase perkembangan, penuaan dan akhirnya mati (al Mukaddimah: 175)
Namun demikian, kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW yang telah mempertontonkan kepada dunia tentang keberhasilan beliau dalam merubah gerak sejarah yang awalnya kelam dan penuh dengan prilaku jahiliah menjadi episode yang penuh dengan cahaya dan menjadi titik balik pembangunan peradaban maha luhur bahkan Fathullah Gulen menilai bahwa tak satupun kasus hijrah yang pernah dilakukan umat manusia di muka bumi ini berakhir dengan hasil gemilang seperti hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW (Al Nur al Khalid : 2, 142).
Keberhasilan hijrah yang dicontohkan Nabi dan para sahabat selayaknya menjadi sebuah pelajaran bagi umat Islam yang hidup di zaman yang “membingungkan” ini. Jika dipahami fenomena hijrah Nabi dan para sahabat, kita akan menemukan sebuah informasi bahwa keberadaan Nabi di kota Makkah ternyata lebih lama dibandingkan di kota Madinah. Di Makkah, selama 13 Tahun, Nabi sangat intens dalam membenahi pola pikir kaum muslimin (baca: keimanan). hal tersebut penting, karena ia akan menjadi pondasi gemilangnya peradaban Islam di kemudian hari. Membenahi pola pikir adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bagi setiap muslim yang menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik.
Dalam catatan sejarah, Nabi mengahabiskan 13 Tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Fase Makkah ternyata lebih lama dibandingkan fase Madinah. Hal tersebut menunjukkan bahwa hijrah intelektual (baca: pola pikir) adalah pondasi yang sangat menentukan bagi fenomena hijrah jasmaniah. Betapa dahsyat pengaruh hijrah intelektual tersebut bagi perjalanan umat Islam selanjutnya sehingga dalam waktu 23 tahun Nabi Muhammad SAW. Beserta kaum muslim dapat menyinari jazirah Arabia dengan ajaran agama. Sebuah catatan waktu yang sangat singkat untuk ukuran kesuksesan yang maha gemilang.
Membangun pola pikir
Pola pikir masyarakat Arab saat itu penuh dengan kemusyrikan. Meskipun mereka mengakui adanya Tuhan namun dalam realitas ibadah, mereka menfisualisasikan Allah sesuai kehendak mereka. Ada yang membuat tuhan dari kayu, batu dan bahkan makanan sehingga ketika lapar menghampiri, mereka tidak sungkan untuk menyantap tuhan mereka.
Dalam praktik ibadah, ketika mereka ditanya mengapa menyembah berhala, mereka mengatakan bahwa berhala itu hanyalah perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah (QS 39:3 ). Amr bin Lubayyi, penguasa Ka’bah dan Makkah saat itu, menaruh sebuah berhala dari batu akik yang sangat terkenal dengan nama “Hubal”.
Kondisi akidah yang kacau tersebut kemudian berdampak negatif pada perilaku di berbagai bidang, misalnya sosial dan ekonomi. Kehidupan sosial Makkah saat itu dicirikan dengan kebobrokan moral yang luar biasa. Rata-rata mereka adalah peminum arak atau tuak. Mereka biasanya melakukannya dalam sebuah pertemuan yang disertai dengan perjudian, disertai dan dihibur oleh para penyanyi perempuan. Demikian pula dengan kekejaman dan kebiadaban bangsa Arab saat itu yang melampau batas kemanusiaan. Anak-anak perempuan di kubur hidup-hidup dalam tanah; adakalanya ditaruh disuatu tempat seperti tong, lalu diluncurkan dari tempat yang tinggi.
Dalam bidang ekonomi, bangsa Arab sebelum Rasulullah saw. kebanyakan adalah pedagang. Perdagangan yang mereka lakukan hanya berorientasi uang atau materi. Mereka tidak terlalu peduli dengan cara yang dilakukan, apakah dengan cara merugikan orang lain atau tidak. Cara bukan suatu yang penting tapi uanglah yang penting. Setelah mendapatkan uang, mereka kemudian menghabiskannya di meja judi dan berbagai pertaruhan lainnya (al Rahiq al Makhtum : 39-50).
Jika kita perhatikan pola pikir orang-orang Arab tersebut yang mengakui adanya tuhan tapi tidak mau diatur oleh Tuhan bahkan dia yang mengatur bentuk tuhan, jumlah tuhan dan cara menyembahnya, maka kita dapat menarik benang merah dengan pola pikir Iblis. Orang-orang arab itu secara fisik adalah manusia, anak turunnya Nabi Adam, Namun pola pikir dan tindakannya adalah pola pikir iblis yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai musuh Adam dan anak turunnya (QS 2 : 36).
 Dalam kitab suci al-Qur’an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa jin (QS al Kahf (18):50), yang diciptakan dari api (QS al Isra’ (15):27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Apakah Iblis atheist? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut ‘kafir’? Di sinilah letak persoalannya.
Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah SAW, sebagaimana orangtua mengenali anak kandungnya sendiri (QS 2: 146), Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.
Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan perintah. “Knowledge and recognition should be followed by acknowledgement and submission, ”
Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang (aba, QS 2:34, 15:31, 20:116), menganggap dirinya hebat (istakbara, QS 2:34, 38:73, 38:75), dan melawan perintah Tuhan (fasaqa an amri rabbihi, QS 18:50). Dalam hal ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang dicontohkannya.
Iblis adalah ‘prototype’ intelektual ‘keblinger’. Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an, sejurus setelah ia divonis, Iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara.
“Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavalri maupun infantri. Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan mereka [kenikmatan dan keselamatan]!” Demikian difirmankan kepada Iblis (QS 17:64).
Maka Iblis pun bertekad: “Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!” (QS 7:16-17). Maksudnya, menurut Ibnu ‘Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama (Tafsir al-Qur’an al-Azdim,  vol. 2, hlm. 190).
Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Qur’an sebagai berikut. Pertama, selalu membangkang dan membantah (QS 6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya, zulman wa ‘uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).
Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya.
Kedua, intelektual yang menjadi staf iblis bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): “Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)”.
Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.
Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-Qur’an maupun Hadis, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis.
Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha’). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur’an : “Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya” (QS: 7:146).
ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan yang bermental iblis bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq.
Sebaliknya, yang haq digunting dan di’preteli’ sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh..
Contohnya mayoritas orientalis Barat dan para pengikutnya dalam kajian mereka terhadap al-Qur’an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur’an 3:71, “Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta’lamun?” Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim. Kalau kita tengok di berbagai kampus yang notabene Islam, kita akan menemukan fakta yang mengerikan. Misalnya, dosen yang menginjak-injak lafadz Allah, kita juga akan menemukan dosen yang berwacana perlunya merevisi al qur’an, kita juga akan menemukan mahasiswa IAIN Walisongo yang mengatakan “area bebas tuhan” dan lain-lain.
Dari uraian tersebut, dapat dipahami bahwa hijrah intelektual merupakan pondasi yang asas dari hijrah jasmaniah atau hijrah yang bersifat tindakan. Sebagai muslim, pertama dan utama yang harus dilakuakan adalah mengikhlaskan diri bertuhankan Allah ber-Nabikan Muhammad SAW, dan menjadikan Islam sebagai way of life. jika itu yang tertanam dalam benak kita, maka dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita akan selalu mengorientasikan segalanya untuk Allah SWT. Orientasi seperti itulah yang disebut dengan pengabdian yang tulus(baca : Ibadah) dan pengabdian seperti itulah yang diperintahkan oleh Allah (QS 98: 5)
Ibarat bangunan, tindakan adalah bentuk bangunannya sedangkan intelektual atau pola pikir adalah pondasinya. Betapapun indah bangunan sebuah rumah, namun jika tidak ditopang dengan pondasi yang kokoh maka ia akan rapuh. Ia akan mudah roboh oleh angin sepoi-sepoi.
والله أعلم بالصواب
Refrensi :
Al Qur’an dan kitab-kitab Hadis
Sofi al Rahman Al Mubarakfury, Al rahiq al makhtum (Dar al Fikr, 1999)
Muhammad Ali al Sobuni, Sofwah al Tafasir (Dar al kutub al Islamiyah, Jakarta, 1999)
Muhammad Fathullah Gulen , Cahaya Abadi Muhammad (Republika, Jakarta 2012)
Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Gema Insani, Jakarta 2008)
Ibn kasir, Tafsir al Qur’an al Azdim (Dar al Kutub, Beirut 1995)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar